Suku Rejang Dari Mongolia? Yuk Baca Ulasan Sejarahnya!

Radardaerah.id- Keanekaragaman suku bangsa, kental dimiliki oleh Indonesia. Salah satunya suku tertua dibagian Sumatera, yakni Suku Rejang. Bahkan suku ini kabarnya merupakan suku tertua mendiami Provinsi Bengkulu.

Dikalangan masyarakat, suku Rejang hampir tersebar mendiami wilayah kabupaten. Namun suku Rejang lebih familiar mendiami wilayah Kabupaten Rejang Lebong, Kepahiang, Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara dan Lebong.

Mengutip berbagai sumber sejarah, asal-muasal suku Rejang erat dikaitkan berasal dari Mongolia. Dimana diyakini nama Rejang berasal dari nama Rhe Jang Hyang yang berasal negara di Asia Timur tersebut.

Dalam ulasan berbagai sumber, nenek moyang Rejang yakni Rhe Jang Hiang awalnya mendiami Desa Napal Putih Bengkulu Utara yang dinamai Desa Kutai Nuak. Keberadaan Rhe Jang Hiang dipercaya menetap di Bumi Raflesia ini pada Tahun 2090 sebelum Masehi.

Catatan sejarah, saat penjajahan belanda Tahun 1860, masyarakat Rejang mengalami kesengsaraan. Kala itu, masyarakat Suku Rejang mendiami wilayah pedalaman yang dikelilingi bukit barisan.

Meski mendiami jauh dari perkotaan, namun beradaban suku Rejang kala itu nampak maju. Bukti nyata, masyarakat Rejang kala itu telah dipimpin oleh 5 orang Tuwi Kutei. Tuwi Kutei memiliki 10-15 keluarga.

Aksara Kaganga menjadi media korespondensi masyarakat suku Rejang. Namun suku Rejang juga memiliki ragam karakter dialeg. Kabupaten Kepahiang, Lebong dan Bengkulu Utara, dialeg masyarakat Rejang memiliki perbedaan mencolok. Ada pula percampuran dialeg Rejang dan bahasa Melayu, yang sering digunakan oleh masyarakat Rejang perkotaan.

Seperti masyarakat muslim pada umumnya, masyarakat suku Rejang juga menganut paham Sunni dan Mazhab Imam Syafii. Organisasi keagamaan yang banyak diikuti masyarakat juga Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Selain itu, ada pula sebagian kecil masyarakat Rejang yang menganut Tarekat Naqsyabandiyah, khususnya di Desa Suka Datang, Rejang Lebong.

 

Itulah sepenggal kisah sejarah suku Rejang yang dihimpun dari berbagai sumber. Semoga pembaca lebih menghargai dan mencintai sejarah dan budaya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *