Enggano, gugusan pulau yang secara administratif masuk dalam wilayah Kabupaten Bengkulu Utara (BU), Provinsi Bengkulu. Salah satu pulau terluar di Indonesia ini menyimpan kisah dan cerita yang sangat menarik untuk disimak. Ingin tahu lebih jauh tentang Enggano? Simak laporan berikut :
Jhony Iskandar (RD) – BENGKULU UTARA
Enggano, pulau yang berada di Samudera Hindia dan berbatasan dengan India. Berjarak sekitar 175 km dari Kota Bengkulu, 123 km dari Kota Manna, 133 km dari Kota Bintuhan. Menuju Enggano dari Kota Bengkulu, dapat ditempuh dengan KM Raja Enggano selama 12 jam perjalanan dan sekitar 45 menit waktu normal menggunakan penerbangan Susi Air.
Pulau Enggano memiliki segudang kearifan lokal. Dihuni oleh lima suku asli dan satu suku pendatang. Suku asli Enggano meliputi Kaitora, Kaharuba, Kauno, Kaarubi dan Kaahoao. Sedangkan suku pendatang di luar penduduk asli dimasukan dalam suku tersendiri yang disebut Suku Kamay, masing-masing suku dipimpin oleh kepala suku.
Sebagian besar masyarakat Enggano menggunakan Bahasa asli lokal setempat sebagai alat komunikasi. Namun seiring perubahan zaman, saat ini masyarakat setempat sehari-hari aktif menggunakan bahasa Indonesia.
Secara administratif, Pulau terluar di Provinsi Bengkulu ini memiliki 6 desa yang saat ini berada dalam kawasan Bengkulu Utara. Ke-enam desa itu meliputi, Kahyapu, Kaana, Malakoni, Apoho, Meok dan Desa Banjarsari. Tercatat pula, Enggano saat ini dihuni lebih dari 5.000 jiwa.
Dihimpun dari berbagai sumber, terdapat cerita tentang asal-muasal nama Enggano ini. Dimana salah satu sumber menyebut, Enggano berasal dari bahasa China yang memiliki arti Rusa Bertanduk.
Dari fakta-fakta sejarah pula, nenek moyang masyarakat Enggano yang berasal dari China Daratan ini datang melalui jalur pelayaran Yunan. Menyusuri anak Sungai Mekhong dan anak Sungai Yang Tse Kiang, tiba di Rangoon Birma menuju Indonesia melalui Pulau Andaman dan Pulau Nicobar di Teluk Benggala. Kemudian memasuki Pulau Nias- Mentawai dan terdampar di Pulau Enggano.
Dilain hal, Enggano ternyata menyimpan banyak sekali kekayaan alam. Dengan Kondisi alam yang membentang dan dikelilingi laut, membuat Enggano memiliki ketersediaan sumber daya alam yang melimpah. Baik itu beragam terumbu karang yang masih terjaga, berbagai macam jenis ikan hingga biota laut lainnya.
Layaknya “Surga” tersembunyi yang dimiliki Enggano ini, kerap pula memantik rasa ingin tahu publik. Bahkan, bagi pencinta diving dan fishing, Enggano merupakan tujuan utama mereka.
Dan bukan rahasia lagi, spot pemancingan yang tersebar di Enggano menjadi surganya para angler atau penghobi memancing baik lokal maupun mancanegara. Alasannya cukup logis. didukung oleh alamnya yang sangat menawan, jadi daya tarik tersendiri. Tak hanya itu saja, ekosistem laut yang masih terjaga menjadikan laut Enggano sebagai target pemancing untuk menikmati sensasi tarikan ikan berukuran besar.
Tak sebatas itu saja, Enggano juga menyimpan panorama wisata alam yang memiliki daya tarik tersendiri.
Seperti wisata Batu Lubang Pantai Koomang Yang Airnya Sejernih Kaca. Keberadaan Laguna ini menjadi daya tarik dan sangat patut untuk dikunjungi.
Selanjutnya danau Bak Blau. Bak Blau yang artinya mata air yang berwarna biru. Sesuai namanya, danau ini memiliki warna biru kehijauan yang alami.
Destinasi selanjutnya yakni pantai Telapak Kaki Batu Layar. Dikelilingi hamparan hutan mangrove, lokasi ini termasuk tujuan para pemancing.
Berikutnya Cagar Alam Teluk Klowe. Hutan yang didominasi pepohonan mangrove turut menjadi daya tarik.
Belum puas melancong, wisatawan akan disuguhkan keindahan goa karst.
Ditambah lagi panorama indah dari pantai ujung batu semakin menambah kepuasan pencinta spot wisata alam.
Jika ke Enggano, tak lengkap pula rasanya jika tak mengunjungi Padang lamun. Berada di kawasan Desa kaana dan area pelabuhan Khayapu, destinasi ini sangat cocok bagi pencinta snorkeling.
“Jika melancong menikmati pesona alam Provinsi Bengkulu, belum lengkap jika belum mengunjungi Pulau Enggano,”singkat Camat Enggano, Susanto, MD. S.Pd. (**)






