Sepak terjang Arsyad Hamzah, SE dikanca perpolitikan di Kabupaten Bengkulu Tengah, tak perlu diragukan lagi. Nama Arsyad sudah sangat familiar dikalangan masyarakat di Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng). Di Bumi Ratu Samban pula, kans pria kelahiran 66 Tahun silam pun turut meninggalkan jejak ‘sejarah’ pada masa itu. Seperti apa vigur seorang Arsyad Hamzah? Simak ulasan berikut :
Jhony Iskandar (RD)-Bengkulu Tengah
Sang motivator patut disempatkan kepada sosok pria ini. Sepenggal riwayat hidupnya pula, dapat menjadi contoh untuk kaum milenial masa kini. Dialah Arsyad, tokoh berdarah Lembak (Batu Raja, red) dan Rejang (Gunung Bungkuk) yang memiliki kans dan pengaruh terhadap Kabupaten Bengkulu Tengah.

Perjalanan karier Arsyad hingga menjadi tokoh politik di daerahnya, tentu memiliki riwayat yang menarik untuk diketahui publik luas. Dimana karier politik sang “Panglima Anak Dalam”, berawal dari bumi Ratu Samban.
Sebelum memulai karier politik, tepatnya di-era Tahun 2000an. Lelaki bertubuh tegap itu, ternyata sempat bergabung di Korps Bhayangkara. Arsyad bergabung di Kompi Brimob 09 Sumatra Selatan (Sumsel). Pengabdian demi NKRI cukup lama digelutinya. Kurang lebih 12 Tahun lamanya menjadi anggota Polri. Tepat pada Tahun 1990, Arsyad memilih pensiun dini.
Selepas tak lagi bergabung menjadi anggota Polri, Arsyad memilih melanjutkan pendidikan. Tepat pada Tahun 2008, Arsyad menamatkan jenjang pendidikan di salah satu Universitas swasta di Provinsi Bengkulu.

Bukan hanya memikirkan kualitas pendidikan. Arsyad juga berambisi guna memberikan kontribusi positif di Kabupaten Bengkulu Utara. Agar hasrat ingin mengabdi di Bumi “Ratu Samban” tercapai, ia memilih bertarung di kontestasi politik di Kabupaten Bengkulu Utara.
Dimulai dari sini, karier politik Arsyad muncul ke permukaan. Bermodalkan tekad, ia berhasil masuk di kursi legislatif di Bengkulu Utara. Dinilai memiliki ide dan gagasan, ia dipercayakan menjadi ketua Komisi A periode Tahun 1999-2001.

Meski telah bergabung menjadi wakil rakyat, Arsyad ternyata merasa terpanggil demi tanah kelahiran. Tepatnya pada Tahun 2001, Arsyad memilih berjuang demi membentuk Kabupaten Bengkulu Tengah. Sosoknya yang Visioner, Arsyad pun ditampuk menjadi dewan penasihat presidium pemekaran Bengkulu Tengah.
Teriakan lantang, ancaman hingga deraian air mata, menjadi awal kisah perjuangan Arsyad untuk Bengkulu Tengah. Berkat kegigihannya bersama tim presidium lainnya, akhirnya Kabupaten “Maroba Kite Maju” pada Tahun 2008 tepatnya pada Bulan Juni, resmi terpisah dari Kabupaten Bengkulu Utara. Tak sebatas itu saja, Arsyad pada Tahun 2012 diamanahkan menjadi Penasihat Bupati Bengkulu Tengah.
Setelah lelah berjuang demi Bengkulu Tengah dan kans politiknya cukup melambung tinggi, ternyata ia lebih memilih mengasingkan diri di dunia politik di daerahnya. Cukup lama ia berdiam diri di kanca politik, kurang lebih 7 tahun lamanya.
Haus akan sosok seorang Arsyad, sorak lantang masyarakat Bengkulu Tengah memanggilnya untuk kembali mengabdi. Demi masyarakatnya, demi kemajuan Kabupaten Bengkulu Tengah dan khususnya panggilan hati, Arsyad kembali mencoba peruntungan di kontelasi politik.
Hasil dedikasinya untuk Kabupaten Bengkulu Tengah, kembali membawanya ke kursi legislatif. Tepatnya di Tahun 2019, ia dipercayakan sebagai Ketua Komisi I.
Lagi-lagi, jabatan yang diamanahkan kepadanya membuahkan hasil positif untuk masyarakat. Satu dari sekian banyak bukti dedikasi sebagai wakil rakyat, infrastruktur jalan di wilayah Desa Pekik Nyaring Kecamatan Pondok Kelapa akhirnya dibangun hotmix.
Dibincangi Radardaerah.id, Arsyad menitipkan pesan kepada masyarakat Bengkulu Tengah.
“Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan menghadap sang khalik (Allah, red). Jabatan, harta itu hanya titipan. Hanya kain putih yang akan kita bawa, setelah nafas terpisah dari raga. Untuk itu, berbuat baiklah. Dedikasikan diri demi orang banyak dan tanah kelahiran. Maka nama kita akan dikenang dengan baik, sampai anak cucu kita nanti,” pesan Arsyad. (**)






