Diary Mustika

 

Tepat di hari itu. Perjalanan melintasi ruang dan waktu selama 26 tahun, akhirnya berakhir. Sudah 2 tahun lamanya, Mustika, wanita ini memilih sendiri melangkahkan kaki. Bak kehidupan baru, warna-warni tersemat diantara goresan-goresan cerita hidup dia bersama kelima orang buah hati.

 

*MUSTIKA*

 

“Ini hidupku dan kupastikan, mampu melewatinya” gumam ku dalam hati.

Bak air yang mengalir. Pagi itu, tak kusangka bakal mendapatkan rezeki yang tak terduga.

Tepat pukul 05.00 WIB. Alarm yang sengaja ku stel via Handphone tiba-tiba berdering. Bergegas, sesuai dengan tanggungjawab. Ku tunaikan tugas, menjalankan sholat subuh.

Ibadah sholat telah usai. Sebagai ibu sekaligus ayah untuk anak-anak. Kewajiban ku setiap pagi, tentu harus diselesaikan. Sebelum memulai jadwal menjemput rezeki. Memasak, mencuci, mempersiapkan kebutuhan buah hati, tentu menjadi prioritas utama.

“Alhamdulillah, semua kerjaan telah usai. Sekarang tinggal mempersiapkan bekal untuk kerja” celetus Mustika sembari mempersiapkan peralatan kerja.

Pascaberpisah dengan suami, memang tanggungjawab kehidupan anak-anak menjadi tanggungjawabku. Dengan iklas, sudah 2 tahun lamanya, status rangkap menempel di pundaku. Ibu sekaligus ayah untuk kelima buah hati.

Waktu menunjukan pukul 08.00 WIB. Ku pacu sepeda motor menuju lokasi kerja. Panggilan kerja pada malam hari kemarin, menambah semangatku untuk menjemput rezeki. Panggilan untuk memberikan terapi kepada 5 orang santriwati. Iya, aku hanyalah seorang tukang pijat keliling. Asalkan halal, ku iklas melakoni. Tentunya atas rasa syukur, pastinya cukup untuk memenuhi kebutuhanku serta anak-anak.

“Tahan sedikit ya nduk, sepertinya bahumu terkilir. Maka perlu dilakukan pemijatan” cetus Mustika sembari menyelesaikan praktik pijat refleksi kepada santriwati terakhir.

Terik matahari sudah berganti senja. Waktu malam pun tiba. Rutinitas pekerjaan ini, memang cukup melelahkan. Keinginan untuk berkumpul bersama kelima orang buah hati, memanggilku untuk cepat-cepat sampai kerumah.

Pukul 22.30 WIB, kelima buah hatiku ternyata sudah menunggu di depan pintu rumah. Raut senyum mereka, mematahkan lelah saat menyambut kedatanganku.

“Mama capek? Adek siapkan teh hangat ya. Mama segeralah mandi dan berganti pakaian” kata anak bungsuku sembari memeluk tubuhku erat.

Tak terasa, netra membasahi pipi. Lisan yang datang dari buah hatiku, teduh. Seharusnya aku yang memotivasi mereka, ini malah sebaliknya. Meski kehilangan sosok seorang ayah, namun kelima buah hatiku malah yang selalu memberikanku semangat.

“Ahks, kok aku jadi melangkolis. Mustika, kamu kuat” gumamku dalam hati sembari melihat satu-persatu wajah malaikat-malaikat yang dihadirkan sang pencipta (Allah, s.w.t) untuk menemani sisa usiaku

Singkat cerita, tekad berdamai dengan hati, akhirnya bisa mensusupi perasaan. Meski kadang, lelah itu menderah dalam logika. Namun demi buah hati, aku pun mampu mematahkan rasa lelah ini.

“Ya Allah, jika ini skenario terbaik yang harus aku jalani. Aku iklas ya Allah. Namun dalam sujudku, mohon kabulkan satu doaku saja ya Allah. Jadikan anak-anaku, tetap berbakti. Berbakti kepada Tuhannya dan diriku sebagai orang tua tunggal. Jadikan anak-anakku menjadi orang yang berhasil dalam karier dan rumah tangganya kelak” MUSTIKA. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *