Diterpa ekonomi sulit, Arnes Yuliana harus berjuang sendiri demi kesembuhan sang buah hati. Ialah Natsya Syanum Nur Azizah. Bayi munggil berusia 6 bulan ini tengah bersabung nyawa, dengan penyakit parah yang ia derita. Berharap sembuh, Natasya hanya mendapatkan sentuhan medis seadanya. Bagaimana kisah bayi munggil tak berdosa ini? Simak ulasan berikut :
JHONY ISKANDAR (RD) – BENGKULU UTARA
Kisah pilu datang dari keluarga pasutri Arnes Yuliana (31) dan Satrio Hadi Saputra. Setelah ditinggal sang suami menghadap sang ilahi (Allah.s.w.t). Ibu rumah tangga asal Desa Tanah Tinggi Kecamatan Padang Jaya ini, harus berjuang demi kesembuhan sang buah hati.
Sudah 4 bulan lamanya, Natsya harus bertahan dengan penyakit gangguan jantung dan epilepsi langka. Saat ini, hanya air mata dan teriring doa dihaturkan oleh keluarga demi kesembuhan bayi tak berdosa ini.
Dirumahnya yang cukup sederhana, Natasya tampak lelap tidur dipelukan sang ibu. Sesekali Arnes mengusapkan telapak tangan diwajah. Air mata wanita ini menetes. Terlihat tegar, namun gejolak batin menyelimuti perasaan Arnes saat ini.
Kepada media ini, Arnes mengaku hanya berjuang seorang diri demi kesembuhan sang buah hati. Awal didiagnosa mengalami penyakit parah itu, ia terus melakukan upaya pengobatan medis.
Awalnya, bayi munggil itu hanya disuguhkan obat-obatan dari dokter di salah satu rumah sakit di Kota Bengkulu. Namun obat-obatan yang diberikan, tidak memperlihatkan tanda-tanda sembuh.
“Saat kumat, Natasya pasti kejang-kejang. Hasil konsultasi terakhir dengan dokter yang menangani, Natasya harus dirujuk ke rumah sakit di Palembang atau di Jakarta,” kata Arnes kepada media ini.
Tekad kuat demi kesembuhan sang buah hati, tampaknya terpaksa pupus. Arahan dokter agar Natasya dirawat di rumah sakit rujukan, terpaksa harus ditunda. Penyebabnya, kondisi ekonomi yang sangat sulit.
“Ingin sekali cepat-cepat dirujuk, namun sangat mustahil. Jangankan untuk biaya pengobatan dan biaya hidup disana, untuk makan sehari-hari saja kami sangat sulit. Jika boleh, biarkan saya saja yang merasakan sakit itu,” cetus Arnes merintih sembari menghela nafas panjang.
Saat ini, Arnes yang hanya hidup berdua dengan sang buah hati hanya bisa berdoa dan berikhtiar. Sedikit demi sedikit, ia menyisihkan uang dari hasil kerja serabutan untuk ditabung.
“Saya yakin dan percaya, ada cerita baik dari kisah yang diberikan sang Khalik kepada anak saya nanti. Semoga rezeki saya dilancarkan, agar bisa menghantarkan buah hati saya berobat dan sembuh,” harap Arnes. (**)






