Bantah Tudingan Liar, Ketahanan Pangan Taba Baru Dinilai Produktif

Camat Lais bersama Pemdes Taba Baru memeriksa kondisi ternak itik.

RADARDAERAH.ID – Camat lais venti Harlina S.STP, M.Si didampingi bawahannya, Jumat (10/1) langsung turun memeriksa program ketahanan pangan di Desa Taba Baru. Kedatangan mereka guna menindaklanjuti tudingan liar terkait salah satu item program Dana Desa (DD) Tahun 2024 ini. Alhasil, agenda cekricek itu membuahkan fakta, guna membantahkan pemberitaan miring terkait program tersebut.

Pantauan Radardaerah.id, didampingi Pemerintah Desa Taba Baru, pihak Pemerintah Kecamatan Lais langsung menyambangi lokasi pemeliharaan ternak itik. Tanpa diduga, ternyata program itu sudah membuahkan hasil. Tercatat ratusan butir telur itik telah dihasilkan atas program tersebut.

“Program ini cukup berhasil dan produktif. Produksi ternak sudah tampak dan tinggal lagi pengelolaan kedepan,” kata Venti.

Disinggung tudingan perihal sistem pemeliharaan ternak telah melabrak regulasi? Venti secara gamblang membantah keras. Ia menerangkan, pemeliharaan seperti ini sangat diperbolehkan.

“Mengingat keterbatasan lahan, kondisi masyarakatnya, jadi sah-sah saja dipelihara seperti ini,” jelasnya.

Venti menambahkan, pelaksanaan program dana desa haruslah sesuai aturan.

“Pengelolaan dana desa harus tepat dan sesuai regulasi,” pesannya.

Kepala Desa Taba Baru, Ratno menghaturkan terimakasih atas kunjungan Pemerintah Kecamatan Lais. Ia juga memastikan pelaksanaan program ketahanan pangan ini, tetap pada koridor aturan.

“Ratusan butir telur telah diproduksi. Nantinya hasil penjualan telur itu, akan digunakan untuk menambah jumlah ternak,” imbuhnya.

Hanya saja, Ratno juga menyayangkan sikap pemelihara ternak yang dinilai lalai hingga menyebabkan ada beberapa ternak mati.

“Kematian ternak itu kabarnya dikarenakan dimangsa anjing. Tentu sangat kami sayangkan,” sesalnya.

Disinggung alokasi dana untuk konsumsi ternak? Pihaknya sengaja mengeluarkan anggaran sesuai kebutuhan pemeliharaan. Ini dilakukan agar meminimalisir salahguna pakan diluar untuk pemeliharaan ternak tersebut.

“Kalau semuanya dibelikan pakan dan diserahkan kepada pemelihara, saya kira sangat beresiko. Selain beresiko pakan itu tidak layak konsumsi lantaran dibiarkan dengan waktu lama. Resiko lain, pakan yang dibeli dari transfer dana desa ini digunakan untuk ternak pribadi,” tuturnya.

Lebih jauh Ratno memastikan, pelaksanaan program ketahanan pangan sistem ternak mandiri ini telah mendapatkan restu dari pihak-pihak terkait.

“Sebelum dipelihara seperti ternak mandiri, kami sudah berkonsultasi dengan pendamping desa dan tenaga ahli. Kalau dibagikan satu-persatu ke setiap warga, khawatirnya tidak akan produktif,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *