RADARDAERAH.ID- Skeptisisme publik menyeruak liar, jelang penghujung masa pengabdian pucuk pimpinan tertinggi di daerah. Sorotan miring tentang kinerja pimpinan eksekutif dan legislatif, kian menonjol seiring persoalan dasar yang tak kunjung terselesaikan. Ialah, masalah infrastruktur jalan yang semakin “sekarat”.

Jalan bak kubangan, wujud buah kerja para petinggi.
Makna “kata terucap, janji bertaruh” hanya sekadar kias. Demi mencapai keinginan duduk “disinggasana”, masyarakat pinggiran terbuai janji. Pada akhirnya, harapan yang dinanti hanya sekadar mimpi.
Jerit menjerit, sindiran dan keukeuh mengadukan kondisi infrastruktur jalan hanya bisa melalui beranda publik media sosial. Tak digubris, keluhan itu mungkin hanya sekadar guyonan bagi mereka yang memiliki kepentingan dan jabatan.
Segelintir fakta, jalan di wilayah pinggiran di Kabupaten Bengkulu Utara bak kubangan menjadi tontonan. Inisiasi berakhir eksekusi pembangunan secara gotong-royong, mulai dilakukan rakyat pinggiran. Demi menghindari korban jiwa, sembari selentingan isyarat sindiran.
Lagi-lagi masyarakat pinggiranlah yang merugi. Kondisi ekonomi kian menjerit akibat kenaikan harga bahan pokok, ditambah kondisi infrastruktur jalan yang semakin memprihatinkan. Mengeluh dan celetus tetap tak berarti.
Sebenar lagi, angin segar akan kembali dinikmati rakyat pinggiran. Kata janji dibarengi visi dan misi, oleh mereka kaum elit yang berambisi. Namun khawatirnya, tragedi jeritan hati kaum “Marjinal” akan terulang kembali, selama yang terpilih berkuasa kembali.
Bangunlah para petinggi. Jangan bungkam dan berdiam diri. Ingatlah janji dan tunjukan eksistensi demi tanah leluhur ini.
Penulis : Joni Iskandar (Wartawan di Bumi Ratu Samban)






