By: Benny Hakim Benardie
Pepatah Melayu lama mengatakan, “Kalau Tak Berada-ada, Takkan Burung Tempua Bersarang Rendah”. Mungkin ini jualah yang membuat Si Muin melamun, termangu menatap awan berarak.
“Kenapa langit tak bertiang? Kenapa awan putih tak berhanyut rendah atau langit biru tak berarti hujan”, terbetik di khayal Si Muin.
Detik, jam, hari pun berlalu menggapai bulan dan tahun. pikiran Muin Pun belum terkuak, langit pun tetap tak berujung dan bertiang. Akhirnya capai membuat Muin terlelap tidur dan bermimpi.
Hanya saja topiknya bukan langit tak bertiang, tapi soal mimpi menjadi seorang nelayan mencari ikan.
Dengan berdayu sampan Muin mencari ikan di tengah laut Negeri Bengkulu. Hari panas, namun air laut terasa dingin. Tak perduli, jaringpun terus di tebar. Al hasil sekeranjang ikan Seriding dan Macoaji berhasil naik ke sampan kecil Muin. Riang bukan kepalang, sampan dikayuh menuju tepi pantai.
Belum tiba di pantai, segerombolan ikan besar mengitari sampan. Sontak, jaring kembali ditebar. Ratusan ikan besar berhasil ditangkap. Sekeranjang Ikan Seriding dan Macoaji dibuang Muin ke laut.
Ikan besar terus dimasukan ke dalam sampan. Naas, over kapasitas, sampannya karam, ikan besar pun lepas. Muin Pun tercebur laut dan berenang ke pinggir pantai.
Sontak Muin terbangun dari mimpinya. Anehnya dalam kondisi tubuh basah kuyup.
- Penulis tinggal di Bengkulu
